Rumah Doa

Jemaat yang di kasihi Yesus, Bait Tuhan sesungguhnya bukanlah rumah atau bangunan secara fisik, melainkan orang percaya yang berhimpun di dalamnya. Perhatikan pernyataan Tuhan Yesus ini: “Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa” (Markus 11:17). Kerana kita ini adalah bait Tuhan, tempat  di mana Roh-Nya berdiam, maka Tuhan menghendaki bait-Nya menjadi rumah doa. Dengan kata lain doa harus menjadi bahagian hal yang penting dalam hidup orang percaya. Agar kehidupan doa ini tidak padam,  Tuhan berfirman kepada Musa: “Perintahkanlah kepada Harun dan anak-anaknya: Inilah hukum tentang korban bakaran. Korban bakaran itu haruslah tinggal di atas perapian di atas mezbah semalam- malaman sampai pagi, dan api mezbah haruslah dipelihara menyala di atasnya.” (Imamat 6:9). Sebagai  imam, Harun dan anak-anaknya mendapatkan tugas menjaga api yang berada di atas mezbah agar tetap  menyala. Jadi setiap pagi mereka harus menaruh kayu di atas mezbah, mengatur korban bakaran di atasnya dan membakar lemak sebagai korban keselamatan. Demikian juga kita seharusnya  mepersembahkan korban pujian dan penyembahan kepada Tuhan setiap hari seperti yang dilakukan  Daud: TUHAN, pada waktu pagi Engkau mendengar seruanku, pada waktu pagi aku mengatur  persembahan bagi-Mu, dan aku menunggununggu.” (Mazmur 5:4). Ini berbicara tentang doa yang tidak  putus.

Tuhan tidak menghendaki api itu padam, ertinya setiap saat dalam hidup ini kita harus  selalu menyala dalam doa, puji-pujian dan penyembahan kepada Tuhan; tidak peduli apakah pekerjaan  menuntut kita untuk selalu sibuk, namun membangun persekutuan dengan Tuhan melalui doa jangan  sekali-kali ditinggalkan, sebab tubuh kita adalah bait Tuhan dan bait-Nya adalah rumah doa. Jemaat yang Yesus kasihi, jadikan doa itu sebagai gaya hidup sehari-hari kerana kita ini adalah rumah doa. Kiranya kasih  karunia Tuhan menyertai kita semua. Amin.