Berpuasa

Jemaat yang di kasihi Yesus, Firman Tuhan dalam Matius 9:14 mengatakan; “Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” Dalam kalangan orang-orang Yahudi ada 3 praktik keagamaan yang dianggap sebagai sangat penting: bersedekah, berdoa dan berpuasa. Kerana itulah Tuhan Yesus menjadikan hal itu sebagai dasar pembahasan dalam khutbahNya yang pertama di atas bukit  (Matius 6:1-18). Namun begitu, melihat murid -muridNya tidak berpuasa, murid-murid Yohanes  mempertanyakan hal itu. Jawapan Tuhan Yesus, “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.” (Matius 9:15). Tuhan Yesus menggambarkan diriNya sebagai mempelai lelaki dan umatNya adalah sebagai mempelai perempuan. Layakkah mempelai perempuan bermuram muka saat pesta perkahwinan berlangsung? Kita tahu bahwa dalam sebuah pesta kedua mempelai harus membuka pintu rumahnya untuk para tamu. Suasana sukacita pasti terlihat dalam pesta itu, di mana semua orang menikmati hidangan yang disajikan. Tidak ada seorang pun yang menghadiri pesta dengan sedih hati dan tidak menyantap hidangan yang disajikan. Tuhan Yesus juga menjelaskan dengan satu kiasan: “Tidak seorangpun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, kerana jika demikian kain penambal itu akan mencabik baju itu, lalu makin besarlah koyaknya.” (Matius 9:16). Kain yang belum disusutkan pasti akan merobek kain yang lama, bila ditambalkan. Kerana itu setiap kain penambal harus disusutkan atau dicuci terlebih dahulu. Puasa adalah proses penyusutan  untuk merendahkan diri, bukan tempat untuk menunjukkan kerohanian.

Dalam ajaran Yudaisme puasa adalah saat untuk meratap atau berdukacita, oleh kerananya orang yang berpuasa akan  cenderung memperlihatkan wajah muka yang muram, supaya orang ramai tahu yang dia sedang berpuasa. Pada masa itu makna puasa sudah mengalami pergeseran kerana ramai orang menjadikan puasa hanya sebagai satu kebiasaan, atau cara untuk menunjukkan yang dirinya adalah seorang yang “rohani”. Jemaat yang Yesus kasihi, melalui ayat ini, Tuhan Yesus mengajarkan agar berpuasa dengan wajah yang cerah, hati yang bersukacita dan tidak perlu diketahui orang lain. Puasa yang disertai dengan pertaubatan adalah puasa yang dikehendaki Tuhan. Tuhan Yesus memberkati. Amin!